Senin, 03 Juni 2013

“SELF ACTUALIZATION & FULLY FUNCTIONING”


Kecenderungan aktualisasi

Aktualisasi adalah proses menjadi diri sendiri dengan mengembangkan seluruh sifat-sifat dan potensi-potensi yang dimiliki individu dengan melakukan yang terbaik dari yang individu bisa sehingga menjadi berguna untuk banyak orang. Dalam mencapai aktualisasi diri, seseorang perlu memiliki kesadaran untuk mengenali dirinya sendiri, menggali potensi yang dimiliki, memperbaiki diri jika dirasa apa yang dilakukan selama ini memiliki sesuatu hal yang kurang mendukung untuk mencapai apa yang dicita-citakannya, adanya keinginan untuk mengubah kondisi kehidupan menjadi lebih baik. Oleh karena itu dengan aktualisasi diri seseorang mampu mencapai puncak kesuksesan sesuai yang dia harapkan.
Seiring berjalannya perkembangan hidup seseorang, aktualisasi diri akan berubah ketika mencapai usia tertentu (adolensi) dari fisiologis ke psikologis. Tokoh-tokoh dari aktualisasi diri yakni Abraham Maslow dan Carl Roger. Maslow yang dikenal sebagai pelopor aliran humanistic yang percaya bahwa manusia tergerak untuk memahami dan menerima dirinya sebisa mungkin. Menurut konsep Hirarki Kebutuhan Individu Abraham Maslow (dalam Schultz, 1991), manusia didorong oleh kebutuhan-kebutuhan universal dan dibawa sejak lahir. Dalam hirarki kebutuhan individu Abraham Maslow, kebutuhan paling tinggi adalah aktualisasi diri dimana kebutuhan-kebutuhan paling rendah hingga paling kuat dipuaskan terlebih dahulu sebelum akhirnya mencapai aktualisasi diri pada tingkatan yang paling tinggi. Kebutuhan pada tingkat pertama yakni fisiologis seperti makan, minum, dan hubungan seksual. Pada tingkat kedua berupa kebutuhan akan rasa aman. Di tingkat ketiga yaitu kebutuhan akan rasa memiliki dan cinta. Dan pada tingkat keempat yaiu kebutuhan akan penghargaan. Dalam pandangannya, manusia yang mengaktualisasikan dirinya, dapat memiliki banyak puncak dari pengalaman dibanding manusia yang kurang mengaktualisasi dirinya.  Menurut Maslow juga, manusia akan benar-benar mengkaktualisasikan dirinya ketika berada di lingkungan yang mereka anggap nyaman.
Namun berbeda dengan Carl Roger, menurutnya organisme memiliki satu kekuatan pendorong tunggal – mendorong aktualisasi diri – dan satu golongan  tunggal dalam hidup – untuk menjadi diri yang teraktualisasikan. Rogers memandang organisme terus menerus bergerak maju . Jadi, makhluk hidup bukan hanya bertujuan bertahan hidup saja, tetapi ingin memperoleh apa yang terbaik bagi keberadaannya. Rogers mengembangkan model terapi Client centered yaitu terapi yang berpusat pada kliennya
Dalam kasus kehidupan organisme, dia berpikir bahwa bentuk dan telos (ketuhanan) dilekatkan dalam diri organisme tersebut sebagai bagian dari kealamiahan. Akhirnya, kecerdasan di duga menjadi tanggungjawab untuk kedudukan secara adil sebaik mungkin secara alami mengenai ide atau perubahan substansi yang mati.
Ide tersebut dikenalkan kembali oleh pemikiran barat pada abad pertengahan melalui sumber islami dan menjadi bagian tradisi skolastik yang mana masih abadi. Ide mengenai ketuhanan secara intrinsik mengenai substansi fisika dan kimia yang secara luas ditinggalkan setelah masa Reneisance tetapi menjadi bagian pemahaman biologi kita. Perdebatan di sini mengenai kebutuhan dalam membahas kecerdasan tertinggi seperti seleksi alam pada evolusi. Perdebatan yang terus – menerus tidak memusatkan di sini, akan tetapi seyogyanya menjadi implikasi yang penting untuk displin seperti teologi dan filosofi.  Adapun dua rencana yang berasal dari warisan Aristotelian adalah sebagai berikut :
a.       Kehidupan organisme muncul untuk mengikuti ketuhanan secara intrinsik atau kepercayaan secara langsung.
b.      Kegiatan kecerdasan (sadar) yang sering lebih penting di sini dan sekarang melalui pencapaian tujuan dalam masa kedepannya dan tiap tujuan mempengaruhi perilaku di waktu sekarang sebagai penyebab akhir dalam Aristotelian.

Aktor humanistik berusaha mendamaikan kedua rencana tersebut. Pada poin kedua tidak begitu mencerminkan pada teori humanistik yang telah di baca oleh pengikut Aristotel atau skolastiknya atau neo – skolastik.  Tradisi cukup menembus pada latar belakang pemikiran barat, tetapi leluhur yang memikirkan humanistik lebih segera atau lebih dahulu. Mereka termasuk dalam pemikir yang bermacam – macam seperti Joseph Rychlak (1968) dimana termasuk dalam teori tradisi kepribadian dialektikal (vs demonstrasi) .

Kecenderungan Aktualisasi Carl Roger
            Lebih dari 30 tahun yang lalu, Carl Roger (1951) membentuk proposi dan memberikan pusat dalam teori kepribadiannya:
            “Organisme memiliki satu dasar kecenderungan dan bekerja keras untuk beraktualisasi, merawat, dan meningkatkan pengalaman organisme. Banyak kebutuhan dan motivasi, hal itu terlihat dalam semua kebutuhan organik dan psikologis yang dideskripsikan dalam kebutuhan pokok. (Rogers, 1951, p. 487) “
            Kemudian ”kecenderungan aktualisasi” Roger dapat digunakan dalam psikoterpi. Terapis menjadi sadar akan kecenderungan perpindahan organisme manusia yang merupakan dasar diamana ia sangat mempercayainya. (Rogers, 1951, p. 489)
            Roger tidak pernah bingung mengenai teori dan praktis kecenderungan beraktualisasi. Dia menggunakan pendekatan “person – centered ” sebagai peran konsultan dalam mengembangkan hubungan yang akan memfasilitasi kliennya. Dia menuntut bahwa organisme pada dasarnya dapat di percaya, berkembang, dan dia menambahkan hubungan 2 proporsi sebelumnya dari warisan Aristotelian. Data mengenai pengalaman mengikuti kesadaran dan menjadi simbol yang akurat. “ ketika semua elemen secara jelas di terima, keseimbangan terlihat ada pada kesakitan tetapi akhirnya menjadi hadiah dalam pertumbuhan aktualisasi diri”
            Kesulitan dalam aktualisasi diri adalah kondisi dimana harus dikembangkan dalam mencapainya. Dalam hal ini, adanya eksplorasi hubungan kesadaran dan biologis, dan kecenderungan organisme. Hal tersebut menjadi meluas dimana mencakup dunia nonbiologis. Setelah melihat teori fisika, kimia, dan filosofi ilmiah, maka kedudukan Rogers yaitu :
            “Ada kecenderungan formative secara umum dimana dapat di usut dan di amati sebagai bintang, kristal, mikroorganisme, dan organis hidup yang lebih kompleks,dan manusia. Ini merupakan kecenderungan evolusi yang lebih baik, lebih kompleks, lebih berhubungan satu sama lain. Dalam manusia, kecenderungan menunjukkan dirinya sebagai individu yang berpindah dari sel tunggal hingga organik komplek yang berfungsi untuk mengetahui dan merasakan level bawah kesadaran, agar organisme sadar akan dunia eksternal, untuk melebihi kesadaran harmoni dan kesatuan sistem kosmis termasuk manusia. Hal ini bisa membangun teori psikologi humanistik dengan menggunakan pendekatan person-centered”
Dorongan Aktualisasi Diri Maslow
            Ia adalah penemu lain dari psikologi humanistik yang merupakan sahabat Roger di institute California. Pada periode awal, dia menghormati Kurt Goldstein sebagai penemu mengenai “self realization” .ia tak yakin dengan self realization tersebut karena rasa instingtif didesak karena analogi biologi. Sehingga membuat Maslow berpikir untuk mengembangkan pikiran kearah dorongan menuju aktualisasi diri yang tergambar oleh kecenderungan manusia. Hal tersebut ditempatkan pada puncak piramida hierarki kebutuhan dan dorongan manusia sebagai berikut :
 
            Kritik untuk teori Maslow ini yaitu masih mengikuti model tradisional dan merujuk pada dorongan untuk aktualisasi diri sebagai anti homeostatic yang mencakup kebutuhan pertumbuhan, kebutuhan untuk memenuhi dan lain – lain. Selain itu, Maslow juga menunjukkan inner nature sebagai inti kepribadian yang memiliki esensi sebagai dasar biologis.
            Maslow menjelaskan pencapaiannya mengenai fakta bahwa manusia tidak  didorong hanya oleh naluri sebagai organisme paling rendah. Manusia lebih bergantung pada kapasitas kognitif, lebih fleksibel, lebih bebas dalam mengembangkan pilihan diri sendiri, dan lebih mudah terpengaruh oleh kultur sosial dan tekanan. “pertumbuhan kepribadian, meningkatkan kebijaksanaan, aktualisasi diri, penguatan karakter, dan perencanaan hidup seseorang .. beberapa vektor lama atau kecenderungan arah, harus dipanggil untuk membuat rasa melalui pengembangan seumur hidup” (1986,p.30)
Dalam mengembangkan teorinya ini, Maslow memberikan kesimpulan bahwa manusia akan terdorong untuk menuju ke self-actualization, yaitu kearah dimana banyak orang menganggap sebagai nilai yang baik seperti menuju ketenangan, kebaikan, cinta, kejujuran, ketidakegoisan dan kejujuran.
Psikolog humanis percaya bahwa setiap orang memiliki keinginan yang kuat untuk merealisasikan potensi – potensi dalam dirinya, untuk mencapai tingkatan aktualisasi diri. manusia baru dapat mengalami “puncak pengalamannya” saat manusia tersebut selaras dengan dirinya maupun sekitarnya. Dalam pandangan Maslow, manusia yang mengaktualisasikan dirinya, dapat memiliki banyak puncak dari pengalaman dibanding manusia yang kurang mengaktualisasi dirinya. Menurut konsep Hirarki Kebutuhan Individu Abraham Maslow (dalam Schultz, 1991), manusia didorong oleh kebutuhan-kebutuhan universal dan dibawa sejak lahir. Keempat syarat untuk mencapai aktualisasi diri adalah memuaskan empat kebutuhan yang berada dalam tingkat yang lebih rendah, yakni kebutuhan-kebutuhan fisiologis, lalu yang kedua kebutuhan-kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan yang ketiga adalah kebutuhan-kebutuhan akan memiliki dan cinta, baru menuju puncak yaitu kebutuhan-kebutuhan penghargaan.

Gerakan self-Realization Nuttin
Joseph Nuttin nampaknya terpengaruh oleh teologi dari Aristoteles yang fokus dengan sifat biological dan kognitif manusia.
1.      Organisme dari manusia dibedakan dengan organisme yang lebih rendah adalah kapasitas dari kesadaran reflektif
2.      Analisis deskriptif dari kesadaran reflektif mencakup setidaknya tiga pengalaman kesadaran, yaitu psikofisiologis, psikososial, dan spiritual
3.      Semua organisme yang hidup adalah sistem terbuka yang tetap memerlukan hubungan dan timbal balik dengan lingkungan
4.      Ketika organisme yang lebih rendah sedang sibuk, mekanisme biologis dari homoestatis adalah sangat penting.
5.      Kesadaran diri menjadi faktor penting  dalam menentukan kebutuhan kita dan mengkorespondensikan gerakan dari psikososial dan level transpersonal dalam pengalaman.
6.      Keseluruhan perilaku kita dimotivasi oleh usaha untuk menunjukkan diri.
7.      Konflik adalah hal yang pasti akan terjadi, memberikan manusia kekayaan kompleksifitas untuk manusia. Konflik menghasilkan ketegangan.
8.      Kita tidak diarahkan oleh insting, seperti makhluk yang lebih rendah.
9.      Sebagai proses pengembangan hidup dan self-awareness , untuk individu yang mengembangkan kepribadian yang ideal, mengambil data dari pengalaman dan memilih kebutuhan yang perlu diaktualisasikan mana yang tidak.
Contohnya seorang siswa kedokteran mungkin harus menolak gratifikasi dalam kebutuhan sosial tertentu,dan mungkin lebih tidak menekan fisiologisnya, dalam hal mengejar kesuksesan. Kebutuhan ini tidak dirusak oleh perkembangan kepribadian selama pengejaran tujuan secara pribadi memuaskan dan bergantung pada kapasaitas dan ketertarikan personal.
Ketika tendensi aktialisasi berakar pada biologis organisme, hal ini memperngaruhi kapasitas manusia dalam kesadaran reflektif. Kesadaran dalam general telah dibentuk oleh tujuan kultural, ide dan nilai yang telah menjadi suatu norma di kehidupan. Kesadaran dirii memberikan  potensi dalam personalisasi, membentuk kecocokan individu sesuai dengan kemapuan dan kapasitas diri.
I.                   Kecenderungan diri untuk berkembang
Menurut Rogers, semua mahluk hidup memiliki kecenderungan untuk berkembang sepenuhnya dan menjadi lebih matang. Pada konteks manusia, kecenderungan untuk berkembang ini tidak hanya sebatas pertumbuhan fisik namun juga termasuk perkembangan psikologis (Schneider,dkk). Rogers menyebut dorongan menuju aktualisasi diri tersebut sebagai kecenderungan aktualisasi (Schultz, 2009).
            Kecenderungan beraktualisasi pada manusia bahkan telah dimulai semenjak masih dalam kandungan dan kemudian terus berkembang selanjutnya. Perkembangan tersebut tidaklah sepenuhnya otomatis namun juga membutuhkan usaha yang keras dan dapat melibatkan rasa sakit. Melalui organismic valuing process, individu mengevaluasi seluruh pengalaman dalam hidupnya tersebut kemudian menilainya sebagai nilai positif atau nilai negatif. Persepsi tersebut dapat mempengaruhi perilaku karena individu cenderung menghindari pengalaman yang tidak diinginkan dan mengulang pengalaman yang diinginkan (Schultz, 2009).
II.                Perkembangan diri (the self)
Diri, secara ideal, merupakan pola yang konsisten sebagai suatu keseluruhan yang terorganisir. Berikut adalah faktor-faktor yang mempengaruhi diri yang telah dikemukakan oleh Rogers (Schultz, 2009):
a.       Postive Regard
Aspek ini berarti penerimaan, cinta, dan persetujuan dari orang lain, terutama oleh ibu ketika bayi. Kebutuhan positive regard yang tidak terpenuhi dapat menghambat perkembangan konsep diri dan kecenderungan aktualisasi. Hal ini dikarenakan bayi melihat penolakan orangtua sebagai penolakan terhadap perkembangan diri mereka. Rogers juga menjelaskan bahwa kondisi dimana positive regard tetap diberikan tanpa memandang perilaku yang tidak diinginkan dari anak disebut sebagai unconditional positive regard. Kemudian seiring dengan berjalannya waktu, positive regard pun akan muncul dalam diri individu yang disebut positive self-regard.
b.      Conditions of Worth
Aspek ini muncul bersamaan perkembangan positive regard menuju positive self-regard. Conditional positive regard adalah penerimaan, cinta, atau persetujuan yang diberikan hanya ketika seseorang menunjukkan perilaku dan sikap yang diinginkan. Hal ini mempengaruhi conditions of worth. Anak berpikir bahwa mereka berarti hanya dalam keadaan tertentu saja dan dapat mengakibatkan anak untuk tidak berfungsi secara bebas. Hal tersebut dikarenakan mereka merasa harus mengevaluasi perilaku dan sikap mereka dengan hati-hati yang berarti mencegah terjadinya aktualisasi diri.
c.       Incongruence
Aspek ini berarti gap atau diskrepansi antara konsep diri dan dunia pengalamannya. Pengalaman yang tidak sesuai dengan konsep diri seseorang akan menjadi suatu ancaman dan termanisfestasi sebagai kecemasan. Apabila hal ini terjadi, individu mungkin akan menyangkal atau memutarbalikan pengalaman yang tidak dapat mereka terima.
III.             Fully functioning persons
Konsep Rogers yang terkenal adalah mengenai fully functioning persons atau yang biasa disebut sebagai aktualisasi diri dalam aliran ini. Fully functioning person adalah hasil dari perkembangan psikologis dan evolusi sosial (Rogers, 1961; dalam Schultz, 2009). Berikut adalah karakteristik fully functioning persons:
a.       Sadar akan seluruh pengalaman
Individu yang fully functioning terbuka dengan perasaan positif seperti keberanian dan kelembutan, begitu juga terhadap perasaan negatif seperti ketakutan dan sakit. Mereka lebih emosional dalam artian bahwa mereka lebih menerima emosi positif dan negatif yang lebih luas dan merasakannya lebih intens (Schultz, 2009). Hal ini berbeda dengan orang lain yang mungkin akan menyensor pengalaman tertentu dengan pertahan diri (Cloninger, 2004).
b.      Hidup secara penuh dan kaya dalam setiap kesempatan
Semua pengalaman berpotensi baru dan segar. Individu tidak hanya sekedar menjadi pengamat namun menjadi partisipan dari pengalaman yang tidak dapat diprediksi atau diantisipasi (Schultz, 2009).
c.       Percaya terhadap organisme dirinya sendiri
Individu yang fully functioning yakin terhadap reaksi dirinya sendiri dari pada diarahkan oleh pendapat orang lain (Schultz, 2009). Mereka mengandalkan pengalaman internal setiap kesempatan dalam membimbing perilakunya. Disebutkan bahwa disfungsi terjadi ketika seseorang hilang kontak dengan perasaan dan nilai internalnya (J. B. Watson & Greenberg, 1998; dalam Cloninger, 2004)
d.      Merasa bebas untuk membuat keputusan tanpa ada yang menghalang
Individu yang fully functioning mengalami kebebasan untuk memilih dalam setiap kesempatannya (Cloninger, 2004). Mereka memiliki keyakinan bahwa masa depan bergantung pada aksi mereka sendiri, bukan oleh keadaan saat ini, kejadian masa lalu, atau orang lain (Schultz, 2009).
e.       Kreatif dan hidup secara konstruktif dan adaptif sebagaimana kondisi lingkungan berubah
Hidup secara kreatif berarti mencari cara baru dalam hidup pada setiap kesempatan (Cloninger, 2004). Selain kreatif mereka juga spontan. Para individu ini bersikap fleksibel dan mencari pengalaman baru dan tantangan. Mereka tidak membutuhkan sesuatu yang dapat diprediksi, keamanan, atau kebebasan dari tekanan (Schultz, 2009).
f.       Dapat menghadapi kesulitan
Karakteristik ini merujuk pada “kondisi yang melibatkan usaha terus menerus terhadap percobaan, pertumbuhan, perjuangan, dan dengan menggunakan seluruh potensial yang dimiliki, suatu cara hidup yang membawa kompleksitas dan tantangan” (Schultz, 2009:334). Fully functioning persons tidak diartikan Rogers sebagai orang yang senang, penuh kebahagiaan, memuaskan, dsb., namun kepribadian mereka lebih tepat dikatakan sebagai kaya, bersemangat, dan bermakna. “Rogers menggunkan kata actualizing bukan actualized dalam mencirikan fully functioning persons” (Schultz, 2009:334). Actualizing, menurut Rogers, menggambarkan perkembangan diri yang selalu menunjukkan kemajuan sebagaimana dirinya pernah menulis bahwa fully functioning adalah “tentang arah, bukan tempat tujuan” (Rogers, 1961:186; dalam Schultz, 2009:334). Orang yang berhenti berjuang dan tumbuh akan kehilangan spontanitas, fleksibilitas, dan keterbukaan.


DAFTAR PUSTAKA
Cloninger, Susan C. (2004). Theories of Personality: Understanding Persons (4th edition). New Jersey: Pearson Prentice Hall.
Schneider, K.J, dkk. (2001). The Handbook Humanistic Psychology: Leading Edges in Theory, Research, and Practice, USA: Sage Publication.
Schultz, Duane P., & Schultz, Sydney E. (2009). Theories of Personality (9th edition). USA: Wadsworth, Cengage Learning.


TUGAS MATA KULIAH PSIKOLOGI HUMANISTIKPSI
Kelas B
Anggota
Riskyana Wulandari            111011036
Febri Dwi Cahyani               111011163
Titin Ayunda                        111011098
Lissa Putri Saraswati           111011230
Hestiana Azalia                    111011247

PSIKOLOGI UNIVERSITAS AIRLANGGA





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar